MEMULAI USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH

MEMULAI USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH

 

Oleh :

Muh. Fahrurrozi

Yohanes Harsoyo

 

          Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan potensial untuk bertindak kreatif. Kemampuun ini merupaka dasar bagi setiap manusia untuk mengembangkan suatu usaha. Jika semakin disadari bahwa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan penggerak utama ekonomi nasional maupun global maka perlu upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut berangkat dari hakekat manusia yang mampu berkreasi.

          Kreativitas perlu dilatih dan perlu ditindaklanjuti dengan pendirian usaha. Proses pendirian usaha yang baik perlu diawali dengan penyusunan proposal usaha sebagai sarana komunikasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan juga sekaligus berguna bagi pendiri sendiri sebagai pedoman gerak langkah. Sekalipun cukup ada tolerasi terhadap keberadaan bagi UMKM namun usaha memperoleh ijin legal tetaplah penting karena terkait dengan keberlanjutan usaha.

          Mendirikan UMKM tidak selalu menjanjikan keuntungan, ada kalanya seseorang harus mengalami kerugian. Maka penting bagi para pemula di UMKM untuk memahami hal-hal yang menyebabkan kegagalan di awal dalam pendirian usaha. Penting juga untuk memahami kiat-kiat agar terhindar dari kegagalan tersebut.

 

         

A. Pendahuluan

Para pembuat kebijakan ekonomi semakin menyadari bahwa kewirausahaan menjadi penggerak utama perekonomian nasional maupun global. Lebih dari itu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) semakin terbukti menjadi lembaga usaha yang lebih tahan terhadap goncangan krisis perekonomian. Para wirausahawan tidak hanya menciptakan kesejahteraan ekonomi, tetapi banyak diantara mereka yang juga berjuang keras untuk membuat dunia ini menjadi tempat tinggal yang lebih baik. Para wirausahawan juga telah mengangkat kesejahteraan hidup masyarakat secara lebih luas melalui penciptaan lapangan pekerjaan. Survei menunjukkan bahwa para pemilik UMKM meyakini mereka bekerja lebih keras, menghasilkan banyak uang, dan merasa lebih bahagia daripada bekerja untuk orang lain atau perusahaan lain ( Zimmerer, 2008).

Banyak orang memiliki banyak ide namun tidak banyak yang berhasil mewujudkan ide tersebut menjadi inovasi yang diterapkan dalam sebuah usaha. Hal ini terjadi karena orang mengalami kesulitan untuk memulai usaha. Makalah ini bermaksud untuk memaparkan bagaimana orang memulia mendirikan UMKM. Pada bagian awal akan disajikan bagaimana proses dari ide menjadi sebuah inovasi yang diterapkan dalam bentuk kewirausahaan. Pada bagian berikutnya akan dipaparkan teknis pendirian usaha meliputi menyusun proposal dan mengajukan ijin usaha. Pada bagian selanjutnya akan disajikan bukti-bukti empiris tentang usaha baru. Pada bagian akhir akan disajikan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para usahawana dan bagaimana cara untuk menghindari kegagalan-kegagalan dalam pendirian UMKM.

 

B. Mengembangkan Ide Kreatif

            Mendirikan dan mengelola Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selalu tidak terpisahkan dari kreativitas dan inovasi. Inovasi tercipta karena adanya daya kreativitas yang tinggi. Kreativitas adalah kemampuan untuk membawa sesuatu yang baru ke dalam kehidupan. Kreativitas merupakan sumber yang penting dari kekuatan kompetisi dalam menghadapi lingkungan usaha yang cepat berubah.

Pada dasarnya kreativitas merupakan salah satu potensi yang dimiliki oleh manusia. Stephen Covey (2006) mengungungkapkan empat sisi potensial yang dimiliki oleh manusia, yaitu :

  1. Self awareness, sikap mawas diri;
  2. Conscience, mempertajam suara hati supaya menjadi manusia berkehendak baik, seraya memunculkan keunikan serta memiliki misi dalam hidup;
  3. Independent will, pandangan independen untuk bekal bertindak dan kekuatan untuk mentransendensi;
  4. Creative imagination, berpikir kreatif dan berorientasi ke depan untuk memecahkan berbagai masalah.

Setiap orang sebenarnya memiliki potensi tersebut tetapi hanya wirausahawan (entrepreneur) yang mampu melakukan aktualisasi dari keempat sisi potensial itu secara tepat dan berkelanjutan.

Pemikiran kreatif juga berhubungan berhubungan secara langsung dengan penambahan nilai, penciptaan nilai, serta penemuan peluang. Ada masa di mana efisiensi dan pemecahan masalah saja sudah cukup. Tetapi sekarang kita memerlukan lebih daripada itu. Misalnya, barang serta jasa apa yang dapat kita desain? bagaimana kita menentukan posisi pasar barang dan jasa? Bagaimana kita menciptakan nilia tambah? Adakah pasar atau segmen pasar yang baru?

Kita dapat meniru produk pesaing, sehingga kita menanggung risiko yang lebih kecil. Tetapi mengapa harus menunggu orang lain mengerjakan apa yang sesungguhnya dapat kita kerjakan lebih dulu? Banyak perusahaan yang memiliki asset yang tidak digunakan dan membutuhkan pemikiran kreatif untuk menggunakannya.

Untuk menemukan peluang kita membutuhkan pemikiran kreatif. Kita harus berusaha untuk menemukannya. Jikalau kita hanya menunggu kesempatan sampai kesempatan itu muncul dengan sendirinya, maka kita akan menjadi salah satu dari pengusaha UMKM pengekor. Jikalau kita menggunakan pemikiran kreatif kita, maka kita dapat menjadi yang pertama. Ide-ide yang menghasilkan peluang usaha tidak menunggu untuk ditemukan, melainkan harus dihasilkan. Kita memang tidak pernah mungkin memiliki gambaran yang lengkap mengenai masa depan, tetapi tindakan kita akan memiliki konsekuensi di masa depan. Oleh karena itulah maka kita memerlukan pemikiran kreatif yang membantu kita melihat konsekuensi dari tindakan kita serta untuk memberikan alternatif tindakan.

Pemikiran kreatif juga dibutuhkan untuk menggambarkan keadaan masa depan, di mana kita akan beroperasi, juga untuk memberikan gambaran yang tidak dapat dihasilkan oleh eksplorasi terhadap trend masa kini. Jikalau kita tidak dapat meramalkan keadaan masa depan dengan tepat, maka kita harus siap dan fleksibel dalam mengahadapi beberapa kemungkinan masa depan. Untuk itu kita membutuhkan pemikiran kreatif untuk menghadapi beberapa kemungkinan masa depan serta tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menghadapinya.

Penelitian mengenai kerja otak manusia memperlihatkan bahwa setiap bagian otak memproses informasi secara berbeda. Otak manusia berkembang secara asimetris, dan setiap bagian cenderung terspesialisasi dalam fungsi-fungsi tertentu. Otak kiri berpikir secara linier dan logis, sedangkan otak kanan berpikir secara holistik, intuitif, dan acak. Otak kiri berhubungan dengan bahasa, logika, dan simbol sedangkan otak kanan berkaitan dengan emosi, naluri, dan fungsi-fungsi spasial (ruang/tempat). Otak kiri memproses informasi dengan cara selangkah demi selangkah, tetapi otak kanan memprosesnya secara intuitif.

Dalam pengajaran di sekolah umumnya pengajaran lebih cenderung pada melatih otak kiri dan kurang mengembangkan otak kanan. Mereka yang belajar mengembangkan keterampilan pemikiran otak kanan mereka cenderung untuk (Zimmerer, 2008) :

  1. Selalu mengajukan pertanyaan, “Apakah ada cara yang lebih baik?”
  2. Menentang kebiasaan, rutinitas, dan “tradisi”.
  3. Suka termenung atau berimajinasi. Dalam banyak kasus yang terjadi adalah sebaliknya, banyak manajer tradisional yang melumpuhkan kreativitas dengan menghentikan orang-orang dari lamunan mereka  karena tidak dianggap produktif.
  4. Menjadi pemikir yang produktif. Mereka mengetahui bahwa menghasilkan banyak ide akan meningkatkan kemungkinan mendapatkan beberapa ide kreatif.
  5. Melakukan permainan mental, dengan cara melihat sesuatu masalah dari perspektif yang berbeda.
  6. Menyadari bahwa mungkin terdapat lebih dari satu “jawaban yang tepat”.
  7. Melihat kesalahan dan kegagalan semata-mata sebagai “penundaan” menuju kesuksesan.
  8. Melihat kesalahan sebagai batu loncatan bagi ide-ide baru.
  9. Mengaitkan ide yang nampaknya tidak terkait dengan masalah untuk menghasilkan solusi yang inovatif.
  10. Memiliki “keterampilan helikopter”, kemampuan untuk berdiri di atas rutinitas sehari-hari untuk melihat masalah dari perspektif yang lebih luas kemudian menukik kembali untuk berfokus pada bidang yang perlu perubahan.

Wirausahawan yang sukses memerlukan baik pemikiran otak kiri maupun otak kanan. Pemikiran otak kanan menggambarkan kekuatan penalaran yang berbeda, yaitu kemampuan menciptakan berbagai ide orisinal dan berbeda. Pemikiran otak kiri mengandalkan pertimbangan konvergen, kemampuan mengevaluasi berbagai ide dan memilih solusi terbaik untuk masalah tertentu. Wirausahawan perlu mengandalkan otak kanan untuk menghasilkan produk, jasa, atau ide bisnis yang inovatif. Kemudian, mereka harus menggunakan pemikiran otak kirinya untuk menilai potensi pasar atas ide yang mereka hasilkan. Wirausahawan yang sukses telah belajar mengoordinasikan fungsi masing-masing bagian otak yang saling melengkapi, menggunakan seluruh kekuatan kreatif otak mereka untuk menghasilkan inovasi yang paling praktis.

Karena kreativitas menjadi sangat penting dalam proses inovasi maka penting setiap pribadi meningkatkan kreativitas. Cara-cara praktis yang dapat ditempuh misalnya :

  1. Memberi kesempatan diri menjadi kreatif.

Kita tidak perlu malu untuk dikatakan “bodoh” ketika kita mengungkapkan hal-hal baru.

  1. Memberi masukan segar setiap hari.

Dapat lilakukan dengan membaca, mendengarkan radio, jalan-jalan dan lain-lain.

  1. Amati berbagai produk dan jasa perusahaan lainnya, terutama yang berada dalam pasar yang benar-benar berbeda.
  2. Sadari kekuatan kreatif dari kesalahan.
  3. Bawalah selalu buku harian untuk mencatat pikiran dan ide anda.
  4. Mendengarkan orang lain.
  5. Mendengarkan kata pelanggan.
  6. Berbicara dengan anak kecil.

Anak kecil dengan pikiran mereka yang tidak terbatasi biasanya memunculkan ide yang kreatif.

  1. Menyimpan kotak mainan di kantor.

Kita bisa menyimpan objek lucu seperti lilin, yoyo, kompas, kartu ramalan dan benda-benda lain yang menarik. Kita dapat mengabilnya dan mencoba memikirkan kaitannya dengan masalah yang kita hadapi.

  1. Membaca buku cara merangsang kreativitas atau mengambil kursus kreativitas.
  2. Meluangkan waktu

Relaksasi sangat penting dalam proses kreatif. Saat-saat rileks dan membiarkan pikiran kita memikirkannya  sering memunculkan ide yang berkaitan dengan masalah kita.

Pemikiran kreatif merupakan motivator yang sangat besar karena membuat orang tertarik akan pekerjaannya. Pemikiran kreatif juga memberikan kemungkinan bagi setiap orang untuk mencapai sesuatu. Pemikiran kreatif membuat hidup menjadi lebih menyenangkan dan lebih menarik. Pemikiran kreatif menyediakan karangka kerja sehingga kita dapat bekerja dengan orang lain sebagai satu tim.

Penting bagi masyarakat luas memberi perhatian dan insentif (misal dengan cara menjadi pelanggan)  pada usaha-usaha kreatif. Jika masyarakat tidak mendukung maka orang akan semakin malas berusaha. Seorang wirausahawan UMKM juga lahir dari suatu kultur masyarakat  yang memungkinkan lahirnya wirausahawan atau dapat dipersempit dalam suatu lembaga usaha yang memiliki corporate cultur yang memungkinkan seseorang inovator dihargai dan dihidupi.

Menurut Robert Rosefeld dan Jenny C. Servo (dalam Mutis, 1995) mengatakan bahwa banyak orang yang beranggapan bahwa kreativitas sinonim dengan inovasi padahal sesungguhnya keduanya berbeda. Kreativitas merujuk kepada pembentukan ide-ide baru, sementara inovasi untuk menghasilkan uang dengan menggunakan ide-ide baru tersebut. Kreativitas adalah titik permulaan bagi setiap inovasi. Inovasi adalah kerja keras yang mengikuti pembentukan ide dan biasanya melibatkan usaha banyak orang dengan keahlian yang bervariasi tetapi saling melengkapi. Tantangan yang dihadapi adalah mengubah  ide-ide kreatif menjadi produk nyata atau proses yang akan meningkatkan pelayanan kepada konsumen, menekan biaya dan/atau menghasilkan pendapatan bagi suatu organisasi. Lebih lanjut  Andrew Atherton (2007) menemukan bahwa keputusan memulai usaha sangat tergantung pada : (1) pengetahuan dan  wawasan yang diperoleh melalui pengalaman belajar. (2) nilai-nilai individu.

 

C. Mengubah Ide Menjadi Kenyataan

1.  Alternatif Memulai Usaha                      

Tahap merealisasikan ide usaha merupakan tahap yang krusial, rumit, dan kompleks. Pada tahap ini wirausahawan UMKM dapat memilih alternatif memulai usaha. Alaternatif-alternatif tersebut adalah mendirikan usaha baru, membeli perusahaan, atau kerjasama manajemen (franchising).

  1. a.      Merintis Usaha Baru

Merintis usaha baru adalah membentuk dan mendirikan usah baru dengan modal, ide, organisasi dan manajemen yang dirancang sendiri. Merintis dan mendirikan usaha baru ini memiliki banyak keuntungan karena desain awal sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pendiri. Namun merintis usaha baru jelas membutuhkan sumber daya awal khususnya modal yang biasanya relatif lebih besar. Syarat teknis pendirian usaha baru akan dibicarakan pada bagian berikutnya.

  1. b.      Membeli Perusahaan

Membeli perusahaan yaitu membeli perusahaan yang telah didirikan atau dirintis atau diorganisir oleh orang lain dengan nama (Good will) dan organi usaha yang sudah ada. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut :

1)      Perusahaan Sukses atau Kurang Sukses

Membeli perusahaan yang sedang berkembang dengan harga yang layak akan meningkatkan kemugkinan kesuksesan. Manajemen sebelumnya sudah membentuk basis pelanggan, membina hubungan dengan pemasuk dan meletakkan system perusahaan. Tujuan pemilik yang baru haruslah membuat berbagai perubahan  yang akan menarik pelanggan barudengan tetap mempertahankan pelanggan yang lama perusahan tersebut. Membeli perusahaan kurang sukses mungkin dengan harga yang lebih murah tetapi punya risiko yang lebih besar.

2)      Lokasi Perusahaan

Kita perlu mengupayakan agar perusahaan yang kita beli berada pada lokasi terbaik. Ketika lokasi perusahaan menjadi salah satu penentu kesusesan perusahaan tersebut.

3)        Karyawan Perusahaan

Jika perusahaan yang sudah ada telah memiliki karyawan yang berpengalaman yang bisa membantu pemilik yang baru dalam melaui fase transisi.

4)        Peralatan Terpasang  dan Kapasitas Produksi

Membeli dan memasang peralatan baru akan menyedot banyak dana perusahaan yang baru berdiri. Pada perusahaan yang ada, calon pembeli dapat mengetahui kondisi pabrik dan peralatan dan kapasitasnya sebelum membelinya. Pemilik sebelumnya mugkin telah menjalankan perusahaan yang efesien  meskipun pemilik baru mugkin melakukan perubahan untuk menigkatkanya.

5)        Persediaan

Kita perlu melihat persediaan yang ada, jumlah persediaan yang memadai sangat penting untuk mengendalikan biaya maupun untuk menghasilkan penjualan dalam volume yang cukup.

6)        Keberlanjutan Karena Perubahan Pemilik

Seharusnya wirausahawan yang membeli perusahaan yang sudah ada akan meghemat waktu, biaya, dan tednaga yang diperlukan untuk merencanakan dan meluncurkan perusahaan baru. Pada hari pertamapemilik baru mengambil alih perusahaan itu, pada hari itu pula pendapatanya dimulai. (Zimmerer, 2008, 302-304) Perlu dihindari pembelian perusahaan yang keberlanjutannya sangat tergantung pada pemilik lama.

  1. c.       Francise (waralaba)

Waralaba menurut persi pemerintah Indonesia adalah : perikatan dimana salah salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki oleh pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka menyediakan dan atau penjualan barang dan jasa.            Sedangkan menurut  asosiasi franchise Indonesia yang dimaksud dengan waralaba adalah suatu system pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek  (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek. Nama, system, prosedur, dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

Waralaba memeiliki beberapa jenis yaitu (1) Waralaba Nama Dagang, meliputi sutau merek seperti true value hardware. Disini, terwaralaba membeli hak untuk memakai nama dari parawaralaba tanpa pembatasan bahwa ia harus mendistribusikan produk-produk teretentu dengan nama waralaba tersebut. (2) Waralaba Distribusi Produk, artinya pewaralaba memberikan hak kepada terwaralaba untuk menjual produk-produk tertentu dengan nama merek dengan merek dagang pewaralaba melalui jaringan selektif dan terbatas. (3) Waralaba murni  atau lebih dikenal waralaba komprehensif yang meliputi pemberian format bisnis secara lengkap kepada terwaralaba termasuk izin menggunakan nama dagang produk atau jasa untuk dijual, fisik pabrik, metode pengoprasian, rencana pemasaran, proses pengendalian kualitas,  dan layanan-layanan lain yang diperlukan untuk mendukung bisnis.

Memulai usaha dengan waralaba memiliki banyak keuntungan. Terwaralaba mendapatkan peluang untuk memiliki bisnis kecil dengan relative cepat,  dan. Karena menggunakan produk  dan nama dagang yang sudah terkenal, suatu waralaba biasanya mencapai titik imbas lebih cepat dari pada mandiri. Akan tetapi kebanyakan waralaba biasanya melum mencapai titk impas dalam waktu 6 sampai 18 bulan.

Terwaralaba juga memanfaatkan pengalaman pewaralaba. Pada kenyataanya. Pada kenyataanya, pengalaman itulah yang terbeli terwaralaba dari pewaralaba.banyak wirausahawan masuk dalam bisnis mandiri dan banyak membuat kesalahan mahal. Rendahnya toleransi bagi kesalahan dalam memulai bisnis, mengharuskan para pemilik bisnis baru tidak banyak membuat kesalahan. Dalam perjanjian waralaba, pewaralaba telah mengatasi rumitnya system melalui coban dan gagal (trial and eror), dan terwaralaba memperoleh manfaat dari pengalaman ini. Terwaralaba telah berpengalaman dan dapat membagikan pengalaman itu kepada para terwaralaba mengenai rahasia kesuksesan yang mereka temui dalam industry tersebut.

Bagi wirausaha pemula, akses kepada model bisnis yang telah terbukti berhasil merupakan jalan yang paling aman untuk membeli sebuah bisnis. Masih terkait dengan itu, setiap calon terwaralaba harus mempertimbangkan jawaban jawaban atas pertanyaan penting berikut : apa yang bias diberikan waralaba terhadap saya yang tidak bias saya kerjakan sendiri? Jawaban terhadap pertanyaan itu bergantung pada situasi wirausahawan dan menuntut sebuah penilaian sistematis atas peluang waralaba. Sedang mempertimbangkan dengan cermat,mugkin saja orang menyimpulkan bahwa waralaba tidak memberikan apapun yangtidak bias ia lakukan sendiri, tetapi bagi orang lain lagi, mugkin waralaba akan menjadi kunci kesuksesan sebagai pemiliki binis. (Zimmerer, 2008, 259-261)

  1. 2.    Menyusun Proposal Usaha

Menyusun proposal usaha memang bukan sesuatu yang wajib namun penyusunan proposal usaha merupakan cara berkomunikasi antara pendiri dengan pihak-pihak lain yang memiliki relevansi misalnya calon pemodal maupun pihak-pihak yang akan memberikan ijin usaha. Selain bertujuan sebagai sarana komunikasi proposal usaha juga sangat penting bagi diri sendiri karena dalam proposal tersebut dituangkan rasionalitas usaha.

Proposal usaha terdiri dari beberapa bagian. Bagian-bagian tersebut saling berkaitan dan saling mendukung. Bagian-bagian tersebut meliputi :

  1. Halaman judul

Berisi nama perusahaan, nama direktur, tahun pembuatan  peroposal, dan hal-hal lain yang dianggap relevan.

  1. Ringkasan eksekutif

Berisi penjelasan secara singkat dan padat apa isi proposal usaha

  1. Pengantar

Berisi penjelasan secara singkat dan padat tentang keinginan perusahaan yang berkaitan dengan peroposal usaha ini, apakah kita pingin meminjam uang, atau ingin menawarkan kepemilikan bersama, atau menawarkan produksi bersama.

  1. Daftar isi
    1. Latar belakang perusahaan

1)        Nama organisasi usaha

2)        Jenis kegiatan bisnis yang akan dilakukan

3)        Sejarah singkat organisasi

4)        Visi dan misi perusahaan

5)        Tujuan perusahaan

6)        Kepemilikan organisasi

7)        Manajemen organisasi usaha

8)        Komposisi dan personalia organisasi

9)        Potensi organisasi

10)    Prospek pertumbuhan dan perkembangan organisasi

  1. Bidang bisnis dan potensinya

1)        Jenis produk yang dihasilkan

2)        Merek produk

3)        Potensi pasar secara umum

4)        Tingkat persaingan dan jenis pesaing

5)        Keunggulan produk kelayakan usaha

6)        Kelayakan investasi secara umum

7)        Kelayakan teknis secara umumstarategi bisnis secara umum

8)        Kebijakan strategi bisnis secara umum

  1. Rencana pemasaran

1)        Potensi pasar

2)        Konsumen efektif

3)        Jenis produk/jasa

4)        Ukuran produk/jasa

5)        System distribusi

6)        Kemasan produk atau jasa

7)        Segmentasi dan target pagsa pasar

8)        Rencana penjualan

9)        Strategi pemasaran

10)    Kebijakan harga

11)    Kebijakan system pembayaran

  1. Rencana produksi

1)        Lokasi produksi

2)        Peralatan produksi

3)        Bahan baku produksi

4)        Organisasi bidang produksi

5)        SDM produksi

6)        Kualitas dan control kualitas

  1. Rencana personalia

1)        Jumlah personalia yang dibutuhkan

2)        Jenis personali dan kualitasnya

3)        Kebijakan ketenaga kerjaan

4)        Biaya kerja setiap personalia :Gaji dan Raward

  1. Rencana oprasional /pelaksanaan proyek

1)        Lokasi usaha

2)        Lokasi bahan baku

3)        Jalur ke dan dari loasi proyek

4)        Transportasi

5)        Sumber air

6)        Sumber energi/listrik

7)        Jadual kegiatan teknis usaha

  1. Rencana keuangan

1)        Kebutuhan total investasi

2)        Rekayasa sumber keuangan

3)        Analisis keuangan

  1. Kajian social dan ligkungan bisnis

1)        Aspek dampak social

2)        Aspek dampak lingkungan

  1. Pengawasan dan informasi tambahan

1)        Rencana pengawasan

2)        Rencana akasi yang akan dating

3)        Informasi tambahan yang diperlukan

  1. Rencana darurat perusahaan

1)        Menjelaskan apa yang dilakukan bila apa yang direncanakan tidaki sesuai dengan kenyataan

2)        Meyakinkan bahwa rencana darurat yang akan dilakukan akan berhasil

  1. Penutup

1)        Menjelaskan bidang usaha kita secara singkat

2)        Memastikan bahwa usaha ini akan berjalan dengan baik

3)        Memastikan bahwa usaha ini akan memperoleh untuk sebagaimana tertuang dalam perencanaan bisnis

4)        Meyakinkan usaha ini memiliki prospek masa depan yang cemerlang

  1. Lampiran-lampiran

1)        Akte notaris pendirian organisasi bisnis

2)        SIUP (surat izin usaha perusahaan)

3)        SITU (surat izin tempat usaha)

4)        TDP (tanda daftar perusahaan)

5)        NPWP (nomor pokok wajib pajak)

6)        Dokumen perizinan yang lain

7)        Neraca perusahaan

8)        Rekening bank selama tiga tahun atau tiga bulan terakhir

9)        Dokumen keuangan lainya

10)    Pajak selama tiga tahun tedrakhir

11)    Kerjasama dengan pihak lain dalam bidang usaha

12)    Pesan peminat dan pembeli

13)    Jaminan suplai bahan baku dan supplier

14)    Rekomendasi dari mitra kerja  (Heflin, 2007, 389-396)

 

3.  Aspek Legalitas Mendirikan Usaha

Ada cukup toleransi terhadap UMKM khususnya usaha mikro dan kecil ketika pemilik tidak memulai usaha dengan aspek legalitas. Namun akan lebih baik kalau kita mulai dengan aspek legalitas ketika akan memulai usaha. Berikut akan dipaparkan beberapa persyaratan legal memulai usaha.

  1. a.        Pendirian Perseroan Terbatas (PT)

Pendirian PT diatur dalam Undang-undang No.40 Tahun 2007, dengan syarat-syarat sebagai berikut.

Sebelu Operasi :

1)   Foto copy  akte notaries

2)   Foto copy KTP para pemegang saham

3)   Foto copy KTP direktur dan komisaris

4)   Foto copy KK direktur utama

5)   Pas poto direktur utama 3×4 berwarna empat lembar

6)   Surat pengantar RT/RW untuk mengurus izin domisili

7)   Izin domisili/SITU

Saat akan beroprasi :

1)   NPWP

2)   SIUP

3)   TDP

4)   Pengesahan oleh menteri kehakiman dan HAM

  1. b.   Pendirian Commanditaire Vennootschap (CV)

Pendirian CV diatur dalam KUHD pasal 19-21 dengan syarat-syarat sebagai berikut.

Sebelum oprasi :

1)   Nama dan alamat  serta pekerjaan dari para pendiri

2)   Penetapan nama dan logo CV

3)   Company profile yang menjelaskan sifat persekutuan comanditer pada masa yang akan datang, apakah bersifat khusus untuk menjalankan sebuah perusahaan cabang secara khusus

Saat akan beroprasi

1)   Pendaftaran akte pendirian di Pengadilan Negeri harus diberi tanggal

2)   Klausul-klausul lain yang berkaitan dengan pihak ke tiga terhadap sekutu sendiri

  1. c.    Pendirian Firma (Fa)

Pendirian Firma diatur dalam KUHD pasal 15-35, dengan syarat-syarat sebagai berikut :

a)      Memiliki akte pendirian yang otentik

b)      Para persero Fa diharuskan mendaftarkan akte tersebut dalam register yang disediakan di kepanitraan pengadilan negeri setempat

c)      Para persero diwajibkan pula untuk menyelenggarakan pengumumandan dimuat dalam pertambahan berita negara

d.  Surat-surat Legalisasi Yang Lain

Di samping pendirian badan usaha juga dituntut surat-surat sebagai dasar legalisasi usaha. Surat-surat tersebut diantaranya ialah :

1)      Surat Keterangan Domisili (Alamat Badan Usaha)

2)      Surat Ijin Tempat Usaha (SITU)

3)      Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

4)      Ijin Prinsip

5)      Ijin Ganguan/Hinder Ordonnantie (HO)

6)      Tanda Daftar Industri (TDI)

7)      Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

D. Bukti Empiris Usaha Baru

 

  1. 1.    Sumber Ide Usaha

 

Ide-ide pendirian dan pengembangan baru bukan merupakan ide yang otonom dari para pemilik UMKM. Ide-ide tersebut muncul karena interaksi antara pengusaha dengan orang-orang atau media yang beragam. Menurut The State of Small Business Report Januari 2010 (dalam   Hatten, 2012) mengungkapkan sebelas sumber ide utama sumber ide usaha. Dalam laporan tersebut ditunjukkan bahwa sumber ide utama berasal dari konsumen. Dari sini nampak bahwa masukan dari konsumen merupakan masukan yang paling berharga karena masukan ini berangkat dari kebutuhan pelanggan. Masukan dari media khususnya surat kabar dan jurnal perdagangan ternyata menempati pada urutan kedua. Sajian informasi yang sistematis dengan metode pengumpulan data yang benar ternyata banyak memberi inspirasi yang memunculkan ide-ide baru. Ide-ide ternyata juga banyak muncul dari pesaing. Walaupun hal ini nampak reaktif namun ternyata terbukti banyak menghasilkan ide usaha. Sumber-sumber lain dapat dilihat dalam Tabel 1.

Tabel 1.   Sumber Ide Usaha

No.

Sumber

Nilai (%)

1. Konsumen

68

2. Surat Kabar dan Jurnal Perdagangan

52

3. Pesaing

50

4. Karyawan

45

5. Pemasok

41

6. Konferensi

38

7. Buku

37

8. Konsultan

20

9. Blog dan Surat Kabar Online

15

10. Situs Jejaring Sosial

14

11. Lain-lain

10

Sumber : Bygrave, 1996

2.  Pimpinan Usaha

Permasalahan yang muncul ketika seseorang akan memulai usaha adalah siapa yang akan memimpin perusahaan. Data yang diperoleh dari survei di Amerika serikat diperoleh hasil dalam Tabel 2 sebagai berikut.

Tabel 2. Identitas Pemimpin Usaha

No.

Identitas Pemimpin Usaha

Kuantitas

1. Pendiri Usaha

82 %

2. Laki-laki

92 %

3. Usia Rata-rata

43 tahun

4. Bekerja Dengan Suami/Istri

14 %

5. Memulai Dengan Patner

60 %

6. Memiliki Rencana Bisnis

48 %

7. Berijazah MBA

22 %

8. Berijazah PhD

3 %

9. Dari Partai Republik

52 %

10. Dari Partai Demokrat

16 %

11. Tidak Berpartai

21 %

12. Mengatakan Karyawan Sebagai Rahasia Kesuksesan

52 %

13. Mengatakan Hanya Sebuah Keberuntungan

2 %

Sumber : Hatten, 2012

Dari tabel tersebut nampak bahwa pada awal pendirian UMKM perusahaan pada umumnya dipimpin langsung oleh para pendiri (82%). Pendiri langsung mengorganisasikan sumber daya dan sebagian besar dibantu oleh rekan yang lain. Para pemimpin perusahaan yang umumnya laki-laki ini berusia sekitar 43 tahun dan banyak diantara mereka yang tidak bergelar MBA.

Jumlah pimpinan usaha yang memiliki rencana bisnis kurang dari setengahnya. Hal ini bisa diartikan bahwa banyak para pemimpin usaha UMKM yang tidak mempersiapkan secara tertulis tentang rancangan dasar usaha. Namun labih dari setengahnya mereka mengatakan rahasia sukses ada pada karyawan.

Salah satu hal yang menarik adalah para pemimpin dan sekaligus pemilik  usaha ini banyak yang memiliki ikatan pada sebuah partia politik yaitu Partai Republik. Hal ini menunjukkan bahwa ideologi tetap memberikan warna meskipun dalam masyarakat yang moderen.

3.  Nasib Delapan Tahun Pertama

 

Tabel 3. Nasib Perusahaan Kecil Selama Delapan Tahun Pertama

No.

Keterangan

Nilai (Persen)

1. Perusahaan Bertahan Hidup 28
2. Perubahan Kepemilikan 26
3. Penghentian Secara Sukarela 28
4. Gagal 18

Sumber    :  Bygrave, William D. 1996. The Portable MBA Entrepreneurship. John Wiley & Sons

Perlu untuk disadari bahwa tidak semua usaha selalu berakhir dengan keberhasilan yang gemilang. Namun berdasarkan survei delapan tahun pertama perusahan berdiri ternyata probabilitas untuk gagal total cukup kecil yaitu 18% saja. Sebagain yang lain tetap berjalan tetapi dengan status yang beragam yaitu berubah kepemilikan 26 %, berhenti secara sukarela 28 %, dan yang terus berlanju dengan kepemilikan yang sama adalah 28 %.

Banyak perusahaan mengalamai berbagai masalah. Salah satu masalah yang cukup serius adalah masalah keuangan yang berkaitan dengan kapasitas pimpinan. Masalah-masalah tersebut terutama  (Atherton, 2012) :

  1. Kemampuan keseluruhan dari pendiri atau pimpinan perusahaan dalam hal keaksaraan keuangan, kemampuan dalam negosiasi untuk memperoleh pendanaan, dan keahlian dalam  perencanaan bisnis.
  2. Munculnya keraguan bagi penyandang dana karena perusahaan baru belum memberi bukti akan keberhasilan usaha.
  3. Para pengusaha baru belum berpengalaman dalam menghadapi ketidakpastian.

E. Kesalahan-kesalahan Awal

Memulai UMKM memiliki risiko sepertihanya mendirikan usaha pada umumnya. Keberanian mengambil risiko tidak boleh menyebabkan orang harus terlena dan tetap harus berhati-hati, apalagi secara umum tingkat kematian bisnis kecil lebih tinggi dibandingkan dengan bisnis besar. Berkaitan dengan hal tersebut berikut akan disajikan hal-hal yang menjadi sumber kegagalan agar menjadi bahan belajar yang berguna bagi para pebisnis pemula dalam UMKM.

  1. Ketidakmampuan Manajemen

Dalam kebanyakan perusahaan kecil, manajemen yang buruk menjadi penyebab utama kegagalan bisnis. Terkadang menejer perusahaan kecil tidak memiliki kemampuan untuk menjalankanya dengan baik. Pemiliknya kurang mempunyai kemampuan kepemimpinan, pertimbangan yang baik, dan pengetahuan yang diperluan dalam menjalankan bisnis. Banyak menejer yang memang tidak memiliki kemampuan untuk menjalankan perusahaan kecil. Hal yang mematikan perusahaan biasanya bukanlah ketidak cukupan modal, bakat, atau informasi melainkan sesuatu yang lebih mendasar: kurangnya penilaian, dan pemahaman yang baik, kata seorang peneliti bisnis.

  1. Kurang Pengalaman

Manajer-manejer perusahaan kecil perlu memiliki pengalaman dalam bidang yang ingin dimasukinya. Sebagai contoh, bila seorang ingin membuka bisnis ritel pakain, pertama-tama dia harus bekerja ditoko pakaian, hal ini memberikan pengalaman praktis dan pengetahuan mengenai seluk beluk bisnis tersebut, yang dapat menunjukkan perbedaan antar kesuksesan dengan kegagalan.

Idealnya, calon wirausahawan harus memiliki kemampuan teknis yang memadai (pengalaman kerja atau berbagai oprasi fisik usaha tersebut dalam kememampuan konseptual yang memadai), kekuatan untuk memvisualisasikan, mengoordinasi dan mengintegrasikan berbagai operasi usaha sinergi yang utuh; serta kemampuan untuk mengelola orang-orang didalam perusahaanya dan memotivasi mereka untuk mencapai kinerja pada tingkat yang lebih tinggi.

  1. Pengendalian Keuangan Yang Buruk

Manajemen yang sehat adalah kunci keberhasilan perusahaan kecil, dan manajer yang efektif menyadi bawa semua keberhasilan bisnis memerlukan kendali keuangan yang layak. Keberhasilan bisnis juga memerlukan modal yang cukup pada awalnya. Kurangnya modal merupakan penyebab umum kegagalan bisnis karena perusahaan kekurangan modal sebelum mereka mampu menghasilkan arus kas yang positif.

Aspek lain dari kendali keuangan yang memadai adalah dengan menerapkan teknik-teknik manajemen uang kas yang pantas. Banyak wirausahawan yang yakin bahwa laba merupakan hal yang penting dalam bisnis baru, tapi uang kas adalah sumber daya keuangan paling penting yang harus dimiliki perusahaan. Mengelola arus kas yang memadai untuk membayar tagihan-tagihan tepat waktu merupakan tantangan bagi wirahusawan, terutama mereka yang berada pada fase awal yang masih tidak menentu atau untuk perusahaan apapun yang mengalami pertumbuhan cepat.perusahaan yang tumbuh pesat menghasbiskan uang kasnya dengan segra, penyaringan kredit yang buruk, praktek-praktek penagihan utang yang buruk dan kebiasaan pembelajaan yang tidak disiplin merupakan factor-faktor umum yang menyebabkan banyak perusahaan yang bangkrut.

  1. Lemahnya Pemasaran

Membagun basis pelanggan yang terus berkembang memerlukan usaha pemasaran tanpa kenal lelah dan kreatif, mempertahankan mereka agar terus kembali diperlukan usaha, yaitu dengan menyediakan nilai, kualitas, kenyamanan pelayanan, dan kegembiraan dan melakukanya dengan segra.

  1. Kegagalan Mengembangkan Perencanaan Strategi

Terlalu banyak manajer perusahaan kecil mengabaikan proses perencanaan strategis, karena mereka mengira hal tersebut hanya bermanfaat bagi perusahaan besar. Membangun perencanaan strategis memaksa wirausahan untuk menilai secara realistis potensi bisnis yang direncanakan.

  1. Pertumbuhan Yang Tidak Terkendali

Pertumbuhan merupakan suatu yang alamiah, sehat, dan didambakan oleh semua perusahaan, tapi pertumbuhan haruslah terencana dan terkendali. Pakar manajemen Peter Drucker menyatakan bahwa perusahaan yang baru berdiri dapat diperkirakan mengalami pertumbuhan terlalu pesat dibandingkan dengan basis modalmereka apabila penjualan meningat 40 sampai 50 persen idealnya, ekspansi harus didanai dari laba yang mereka hasilkan (laba ditahan)atau tambahan modal dari pemiliknya, tetapi sebagian besar perusahaan mengambil pinjaman paling tidak sebagian dari investasi modal.

Ekspansi biasanya memerlukan perubahan besar dalam dalam struktur organisasi, praktik-praktik bisnis seperti prosedur pengendalian persediaan dan pengendalian keuangan, penugasan karyawan, dan bidang-bidang kegiatan lainya. Akan tetapi perubahan penting terjadi dalam kemampuan manajerial. Dengan berkembangnya ukuran dan komleksitas perusahaan, masalah-masalah cendrung meningkat proporsinya, dan wirausahwan harus belajar menagani hal ini. Kadang wirausahawan mendorong pertumbuhan cepat melewati kemampuan dalam mengeloa bisnisnya.

  1. Lokasi Yang Buruk

Untuk bisnis apapun, pemilihan lokasi yang tepat merupakan seni dan ilmu. Lokasi perusahaan sering kali dipiih tanpa penelitian, pengamatan, dan perencanaan yang layak beberapa pemilik bisnis baru memilih lokasi hanya karena ada tempat kosong. Akan tetapi, masalah lokasi terlalu riskan untuk dilakukan secara untung-untungan, khususnya untuk bisnis eceran denut jantung kehidupan bisnis, penjualan sangat dipengaruhi oleh pemilihan lokasi.

  1. Pengendalian Persediaan Yang Tidak Tepat

Tingkat persedian yang tidak mencukupi akan mengakibatkan kekurangan dan kehabisan stok, mengakibatkan pelanggan kecewa dan pergi. Yang sering terjadi adalah manajer tidak hanya memiliki persediaan dalam jumlah yang berlebih, tetapi terlalu banyak pesediaan yang salah jenis.

  1. Penetapan Harga Yang Tidak Tepat

Menetapkan harga yang akan menghasilkan laba berarti bahwa pemilik perusahaan harus memahami besarnya biaya untuk membuat, memasarkan, serta mendistribusikan produk dan jasa mereka. Sering kali wirausahwan dengan mudah menetapkan harga berdasrkan harga yang ditetapkan pesaingnya atau berdasrkan ide yang samar-samar menjual produk terbaik dengan harga terendah, keduanya sangatlah berbahaya. Para pemilik bisnis menetapkan harga terlalu rendah atas produk mereka. Tahapa pertama dalam menentukan harga yang akurat adalah dengan mengetahui biaya pembuatan atau penyedia produk dan jasa. Kemudian pemilik bisnis ini dapat menetapakan harga yang dapat mencerminkan citra perusahaan yang ingin mereka bangun dan selalu, tentu saja, dengan memperhatikan pesaingnya.

  1. Ketidakmampuan Memebuat Transisi Kewirausahaan

Berhasil melewati tahap awal kewirausahaan  tidak menjamin kesuksesan perusahaan. Setelah berdiri, pertumbuhan biasanya memerlukan perubahan derastis gaya manajemen,satu hal yang tidak dapat dilakukan dengan baik oleh para wirausahawan. Kemampuan-kemampuan yang tadinya membuat kewirausahwan berhasil seringali mengakibatkan ketidakefektifan manajerial. Pertumbuhan mengharuskan wirausahawan untuk mendelegasikan wewenag dan melepaskan kegatan pengendalian sehari hari hal yang tidak mampu dilakukan oleh banyak wirausahawan. pertumbuhan mendorong mereka kedalam wilayah yang tidak dikuasai oleh kebanyakan kewirausahawan, tetapi mereka lebih memilih untuk terus berusaha mengambil keputusan daripada harus melibatkan orang lain (Zimmerer, 2008, 39-43).

F. Menhindari Kegagalan

            Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa kekagagalan merupakan keberhasilan yang tertunda. Kegagalan yang direfleksikan secara benar akan menjadi kekuatan untuk memulai dan meneruskan usaha. Namun akan lebih bijaksana jika terjadinya kegagalan diminimumkan atau dibuat menjadi nol. Berikut dipaparkan beberapa hal untuk menghindari terjadinya kegagalan.

  1. Mengenal Bisnis Secara Mendalam

Menekankan perlunya pengalaman yang relevan dalam bisnis yang akan anda dirikan. Dapatkan pendidikan terbaik yang mugkin diperolah dibidang bisnis itu sebelum membuka bisnis anda sendiri. Jadilah siswa yang sungguh-sungguh dalam industry and baca dalam segala hal yang mugkin jurnal niaga, majalah bisnis, buku laporan penelitian, sehubungan dengan industri anda dan pelajari apa yang bermanfaat agar berhasil dalam industry tersebut. Hubungan pribadi dengan pemasuk, pelanggan, perkumpulan bisnis, dan kegiatan industry yang lainya dalam industri yang sama adalah cara lain yang baik untuk memperoleh pengetahuan itu. Wirausaha yang cerdik bergabung dalam asosiasi perdagangan industri dan mmedghadiri perhelatan perdagangan untuk mengumpulkan informasi yang berguna dan menjalin hubungan dengan orang-orang penting sebelum membuka pintu untuk bisnis.

  1. Mengembangkan Bisnis Secara Solid

Untuk semua wirausahawan, rencana bisnis yang ditulis dengan baik adalah bahan yang sangat penting untuk keberhasilan bisnis, tanpa rencana bisnis yang matang perusahaan berjalan tanpa arah yang jelas. Sejauh ini wirausahawan yang cendrung menjadi orang-orang yang bertindak, sering kali terjun langsung kedalam suatu bisnis tanpa mempersiapkan rencana tertulis yang mendasari esensi dari bisnis tersebut. Sayangnya, kebanyakan kewirausahawa tidak meluagkan waktu yang memadai untuk membuat rencana bisnis yang kokoh. Rencana bisnis tak hanya memberikan jalur yang benar menuju keberhasilan, tetapi juga menciptakan tolak ukur yag dapat dipakai kewirausahawan dalam mengukur kinerja aktual perusahaanya. Sumber daya untuk menciptakan rencana bisnis termasuk pranti lunak seperti bisnis plan, tersedia untuk membantu pemiliki perusahaan yang memiliki inspirasi untuk menciptakan rencana bisnis. Membangun bisnis yang sukses diawali dengan inplementasi rencana bisnis yang tepat dengan fokus seperti laser.

Rencana bisnis memugkinkan wiraushawan untuk me ngganti asumsi yang kadang-kadang salah dengan fakta-fakta sebeum mengabil keputusan untuk terjun kebisnis. Proses perencanaan memaksa wirausahwan untuk bertanya dan kemudian menjawab beberapa pertanyaan yang sukar, menatang, dan amat penting.

  1. Mengelola Sumber Daya Keuangan

Pertahanan terbaikuntuk menghadapi persoalan keuangan adalah dengan mengembangkan sistem informasi praktis dan kemudian mengunakannya untuk menggabil keputusan bisnis. Tidak ada wirausahawan yang dapat mengendalikan bisnisnya tanpa mengetahui kesehatan keuanganya.

Langkah pertama dalam mengelola sumber daya keuangan secara efektif adalah dengan memilik modal yang cukup. Terlalu banyak wirausahawan yang memulai bisnis dengan modal yang terlalu kecil. Seorang pemilik perusahaan yang berpengalaman menyarankan: perkirakan beberapa banyak modal yang diperlukan untuk menjalankan bisnis dan kalikan dua. Nasihat ini layak diperhatikan ; biaya yang diperlukan dalam mendirikan perusahaan hampir selalu lebih besar dari pada yang diperkiraan.

Sumber daya keuangan yang paling berharga untuk perusahaan kecil adalah uang tunai. Memang menghasilkan laba itu penting untuk dapat bertahan dalam jangka panjang, tapi perusahaan harus memiliki uang tunai dalam jumlah yang cukup untuk membayar tagihan dan kewajibanlainya. Beberapa wirausawan mengandalkan pertumbuhan penjualan untuk menutupi kebutuhan dana perusahaan, tapi hal ini hampir tidak pernah terjadi. Perusahaan yang sedang tumbuh biasanya memerlukan lebih banyak uang tunai dari pada yang dihasilkanya dan semakin besar pertumbuhannya, semakin banyak pula menghabiskan uang sejarah bisnis dikotori oleh perusahaan-perusahaan yang gagal yang para pendirinya tidak mengetahui beberapa banyak uang tunai yang dihasilkan dan dikeluarkan oleh bisnis, seolah-olah mereka yakin bahwa masih banyak lagi yang akan masuk.

  1. Memahami Laporan Keuangan

Setiap pemilik perusahaan harus mengandalkan catatan dan laporan keuangan untuk mengetahui kondisi keuangan bisnisnya. Hampir selalu catatan-ctatan ini hanya digunakan untuk keperluan pajak dan tidak dimanfaatkan sebagai alat pengendali yang vital. Untuk benar-benar mengenal apa yang terjadi dalam bisnis, wirausahawan paling tidak harus mempunyai pemahaman dasar mengenai akuntansi dan keuangan.

Jika dianalisis dan ditafsirkan dengan benar, laporan-laporan keuangan ini merupakan indikator-indikator yang dapat dipercaya mengenai kesehatan perusahaan kecil. Laporan-laporan ini cukup membantu dalam member peringatan bahwa ada masalah. Sebagai contoh  penurunan penjuaan, tidak tercapainya laba, membengkanya utang dan menyusutnya modal kerja, yang semuanya merupakan gejala adanya masalah yang berpotensi mematikan sehingga membutuhkan perhatiansegra.

  1. Belajar Mengelola Orang Secara Efektif

Adapun jenis bisnis yang anda luncurkan, anda harus belajar mengelola orang. Setiap bisnis bergantung pada pondasi karyawan yang terlatih dan termotivasi. Tidak ada pemilik perusahaan yang dapat mengerjakan segala sesuatunya dengan sendirian. Orang-orang yang dipekerjakan wirausahawan pada akhirnya akan menentukan seberapa jauh perusahaan akan berkembang atau seberapa dalam perusahaan akan jatuh. Meskipun demikan, merekrut dan mempertahankan korps karyawan yang bermutu bukanlah tugas yang mudah. Persoalan ini selalu menjadi tantangan bagi setiap pemilik perusahaan kecil. Pada akhirnya sumber daya yang paling dominan yang dapat dipertahankan adalah mutu orang-orang yang anda mliki.

  1. Jaga Kondisi

Memulai bisnis seperti lari marathon. Bila anda secara fisik dan mental tidak siap, sebaiknya anda mengerjakan yang lain saja, kata seorang konsultan bisnis. Keberhasilan bisnis anda akan bergantung pada keberadaan dan perhatian anda secara terus menerus, oleh sebab itu anda perlu memantau kesehatan anda dengan cermat. Stress merupakan masalah utama terutama bila tidak dikendalikan.

Wirausawan yang sukses menyadari bahwa aset mereka yang paling berharga adalah waktu, dan mereka belajar  untuk mengelolanya secara efektif agar diri sendiri dan perusahaanya menjadi lebih produktif. Tentu saja, semua tidak akan mugkin terjadi tanpa gairah-gairah terhadap bisnis, produk atau jasa, pelanggan, dan komunitas merer. Gairah merupakan hal yang menyebabkan wirausahawan yang gagal bersedia bagkit mencoba lagi, dan berhasil menuju puncak (Zimmerer, 2008, 48-50)

 

 

G. Penutup

            Kesadaran para ahli ekonomi tentang pentingnya kewirausahaan akan tidak banyak berdampak apabila tidak dikaitkan dengan upaya-upaya praktis bagaimana banyak orang khususnya kaum muda untuk menekuni UMKM. Persoalan bagi kita antara lain adalah mempertajam intusi, bukan hanya mendapatkan pendidikan di bangku kuliah tetapi juga pengalaman dan mengasah kecerdasan bisnis (business intelegence), memelukan dedikasi tertentu yang ditunjang oleh suatu sikap yang tidak mudah patah semangat melainkan lebih lentur dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang berproses seraya mempertajam kepekaan terhadap lingkungan mikro ataupun makro secara tepat. Melalui kesulitan yang berproses ini justru mutiara kewirausahaan itu ditempa untuk menghasilkan buah yang berlimpah.

Dalam konteks global kita semakin ditantang tidak hanya melakukan penetrasi bisnis yang produknya dipasarkan secara lokal saja tetapi juga sampai pasar internasional. Justru kehebatan entrepreneur adalah mengubah kesempitan menjadi kesempatan, mengubah posisi underdog menjadi pemenang. Hal ini bisa terjadi asal saja ada winning commitment yang dipacu secara terus-menerus melalui proses bisnis yang berkualitas.

            Mendirikan UMKM memang memang tidak selalu menjanjikan hasil yang gemilang. Kegagalan dapat terjadi yang dapat diakibatkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Namun dalam sebuah usaha risiko memang harus ditempuh, yang penting adalah melakukan kalkulasi secara baik dan kerja keras untuk merealisasikan rencana.

DAFTAR RUJUKAN

Atherton, Andrew. Preparing for Business Start-up: “Pre Start” Activities in The New Venture Creation Dynamic. Jurnal of Small Business and Enterprise Development Vol. 14 No. 3, 2007

Atherton, Andrew. Cases of start-up financing An analysis of new venture capitalisation structures and patterns. International Journal of Entrepreneurial Behaviour & Research Vol. 18 No. 1, 2012 pp. 28-47

Bygrave, William D. 1996. The Portable MBA Entrepreneurship. John Wiley & Sons

Covey, Stephen R. 2006. Eighth Habit. Penerbit Simon & Schuster

Frinces Z Heflin, 2005,  Kewiraushaan dan Inovasi Bisnis, Penerbit darussalam, Yogyakarta

Frinces Z Heflin, 2007,  Perencanaan Bisnis  Konsep Dan Inplementasi, Penerbit  Mida Pustaka, Yogyakarta

Hatten, Timothy S. 2012. Small Business Management Entrepreneurship and Beyond 5th ed. South-Western, Cengage Learning.

Hendro, 2011, Dasar-Dasar Kewirausahaan Panduan Bagi Mahasiswa Memahami Dan Memasuki Dunia Bisnis,Penerbit Erlangga, Jakarta

Woodside, Arch G. Opening up Decesion Making: Making Sense of Entrepreneur and Reseller Bussiness-to-Bussiness Strategies. The Journal of Business & Industrial Marketing, 20/7 (347-354)

Zimmerer,  Thomas W. dkk. 2008. Kewirausahaan Dan Manajemen Usaha Kecil edisi kelima. Penerbit  Salemba Empat, Jakarta

***

Download disini

Tentang Muh.Fahrurrozi

Ramah, Sopan, Smart

Posted on 18 Februari 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: